Blog Kang One

Catatan Sederhana untuk Berbagi
REMED UAS/PAS PPKN SMS GANJIL KELAS X

REMED UAS/PAS PPKN SMS GANJIL KELAS X

Bagi siswa kelas X yang nilai UAS/PAS PPKn masih dibawah 75, harus mengerjakan perbaikan nilai UAS/PAS.

silahkan kerjakan soal dibawah ini, nilai yang didapat harus diatas 75. kalau belum dapat 75, harus mengulang kembali, sampai dapat diatas 75.


LKPD PPKn BAB 4 Kelas X

LKPD PPKn BAB 4 Kelas X

Silahkan donwload LKPD dibawah ini, lalu kalau sudah di isi, lalu simpan jadikan PDF. dan upload ke smartlearning.

REMED UTS SMS 3 PPKn KELAS XI

REMED UTS SMS 3 PPKn KELAS XI

Silahkan bagi yang nilai raport UTS PPKn masih dibawah 75, untuk mengerjakan perbaikan nilai.
silahkan kerjakan soal dibawah ini, nilai yang didapat harus diatas 75. kalau belum dapat 75, bisa mengulang kembali.

REMED UTS SMS 1 PPKn KELAS X

REMED UTS SMS 1 PPKn KELAS X

Silahkan bagi yang nilai raport UTS PPKn masih dibawah 70, untuk mengerjakan perbaikan nilai.
silahkan kerjakan soal dibawah ini, nilai yang didapat harus diatas 70. kalau belum dapat 70, bisa mengulang kembali.
LKPD KELAS XI BAB 2 PERTEMUAN 1

LKPD KELAS XI BAB 2 PERTEMUAN 1

 Silahkan donwload LKPD dibawah ini,

lalu kalau sudah di isi, lalu simpan jadikan PDF. dan upload ke smartlearning.




LKPD KELAS X BAB 2 PERTEMUAN 1

LKPD KELAS X BAB 2 PERTEMUAN 1

 Silahkan donwload LKPD dibawah ini,

lalu kalau sudah di isi, lalu simpan jadikan PDF. dan upload ke smartlearning.



LKPD KELAS X BAB 1 PERTEMUAN 3 & 4

LKPD KELAS X BAB 1 PERTEMUAN 3 & 4

sebelum isi LKPD, silahkan download dulu LKPD dibawah ini, lalu jangan lupa kalau mau kirim tugasnya harus dijadikan file PDF dulu.

Materi PPKn BAB 1 Kelas XI Harmonisasi Hak dan Kewajiban Asasi Manusia dalam Perspektif Pancasila



Materi PPKn Kelas XI BAB I
Harmonisasi Hak dan Kewajiban Asasi Manusia dalam Perspektif Pancasila

Kompetensi Dasar :

3.1.Menganalisis pelanggaran hak asasi manusia dalam perspektif pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

4.1. Menyaji hasil analisis pelanggaran hak asasi manusia dalam perspektif pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

Materi Pembelajaran :
A. Konsep Hak dan Kewajiban Asasi Manusia
B. Substansi Hak dan Kewajiban Asasi Manusia dalam Pancasila
C. Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia 
D. Upaya Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) 




Cerita Wali Allah ketemu Rombongan Virus/Wabah



ini kisah ketika seorang Wali Allah bertemu rombongan Virus yang akan menyerang suatu wilayah atau kaum. silahkan simak penjelasannya.


Jadi semua wabah atau virus yang terjadi sekarang ini semuanya karena ketetapan Allah SWT.
jadi kita harus tetap bersabar dan terus berdzikir kepada Allah SWT.
jangan lupa kuatkan iman dan imun kita.


Abuya Uci Turtusi Menjelaskan Wabah Corona di Indonesia

 Silahkan dengarkan nasehat dari Abuya Uci Turtusi mengenai Wabah Corona yang terjadi saat ini.






Setelah mendengarkan ini, patuhi prokes dan aturan rasul melalui pemerintah.

Hukum Zakat Fitrah Menggunakan Uang

 HUKUM ZAKAT FITRAH DENGAN MENGGUNAKAN UANG



1. Mazhab Syafi’i (Qaul Mu’tamad) dan Jumhur Ulama ; Tidak Membolehkan dan tidak mengesahkan Zakat Fitrah dengan menggunakan uang (Qimah), tetapi hanya dengan beras dengan kadar 1 sha’ atau sebesar 2,75 kg / 2,5 kg atau 3,5 liter. 

#Solusi alternatif bagi muzakki yang akan menunaikan zakat fitrah dengan uang, adalah panitia/amil menyediakan beras untuk dibeli oleh Muzakki terlebih dahulu, kemudian setelah dibeli,  mereka menyerahkannya kepada amil/panitia zakat

#Dan perlu diperhatikan baik-baik, bahwa beras yang di jual adalah beras murni persediaan panitia, bukan beras yang telah diterima panitia dari hasil zakat beras orang lain yang terlebih dahulu datang kemudian beras zakat itu dijual kembali kepada muzakki lain yang datang kemudian. Menjual beras zakat seperti ini tidak diperbolehkan


2. Mazhab Hanafi ; boleh zakat fitrah menggunakan uang (Qimah). Maka bagi yang berzakat firah dengan menggunakan uang, bertaklid ke mazhab Hanafi, dan dengan  konsisten mengikuti mazhab Hanafi secara total (aturan dan ketentuannya -- yakni senilai harga kurma, anggur, gandum sebagai patokannya sebesar : 3, 8 kg).

Termasuk dalam kelompok ini, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta tentang Hukum dan Pedoman Pelaksanaan Zakat Fitrah dengan Uang, tanggal 9 Juni 2018, dan Surat Edaran Bersama Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur dan Surat Edaran Lazisnu Jawa Timur tanggal 13 Mei 2020, tentang Pedoman dan Kadar Zakat Fitrah.

Menurut MUI Jakarta, perhitungan zakat dalam bentuk uang harus mengikuti Hanafiyah, yaitu 1/2 shâ‘ gandum (burr/hinthah) termasuk tepungnya (sawiq), dan kismis (dzabîb) atau 1 shâ‘ kurma (tamr), jelai (sya‘îr)dan keju, senilai 3,2615 kg (3,3 kg).  

Dalam Surat Edaran Bersama LBMNU Jawa Timur disebutkan lebih rinci ketentuan tata cara pembayaran menggunakan  uang, harus mengikuti mazhab Hanafi secara total, dengan uang senilai 3,8 kg kurma yang berkualitas, bahkan diperinci kadarnya satu sha’ 3,8 kg sesuai salah satu pilihan takaran harga. 

Berikut kutifan kadar Zakat Fitrah Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Jawa Timur (Mei 2020) :

KURMA

- Kurma Ajwa

  Rp 1.140.000 (setiap jiwa)

- Kurma Sukari/Sejenisnya =

  Rp 342.000  setiap Jiwa)

- Kurma Kholas =

  Rp 171.000 (setiap jiwa)


ANGGUR KERING / KISMIS

- Kismis Jumbo = 

  Rp  570.000 (setiap jiwa)

- Kismis Kecil

  Rp 380.000  (setiap jiwa)


GANDUM

- 1 sha'        = 

  Rp 126.000 (setiap jiwa)

- 1/2 sha'   =

   Rp. 63.000 (setiap jiwa)


3. Imam ar-Ruyani (415 H) ulama mazhab Syafiiyah (Qaul Dhoif) ; boleh zakat fitrah menggunakan uang.

Pendapat ini juga dijadikan dasar oleh Keputusan BM LBM PWNU Provinsi Banten tentang Sahnya Zakat Fitrah dengan Uang dalam mazhab Syafi’i, tanggal 18 Mei 2020, dengan berpijak pada kitab Thabaqât al-Fuqahâ’ al-Syâfi‘iyîn karya ‘Imâd ad-Dîn Ibn Katsîr, Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1971, Juz II, hlm. 24.

Pendapat Imam ar-Ruyani meskipun lemah, dipandang lebih baik daripada berpindah mazhab atau mengikuti mazhab lainnya (intiqâl al-mazhab/talfîq), dengan zakatnya 2,5 kg / 2,75 kg atau 3,5 liter beras.


4. Hasil bahtsul masail LBM PBNU tentang Pembayaran Zakat Fitrah dengan Uang, tertanggal 18 Mei 2020, dengan mengunakan model intiqâl al-mazhab fî ba‘dh al-masâ’il (berpindah mazhab dalam sebagian masalah/tidak secara utuh) ; Boleh zakat fitrah dengan menggunakan uang mengikuti pendapat Hanafiyah dan Syekh Ibn Qasim, seorang ulama Malikiyah, dengan mengikuti mazhab Syafiiyah dalam menggunakan nominal harga beras sesuai kualitas layak konsumsi masyarakat sebesar 2,5 kg / 2,75  kg atau 3,5 liter beras. 

Tentang besaran zakatnya tersebut mengikuti mazhab Syafiiyah, tidak mengikuti pendapat Hanafiyah, yang bila dibandingkan nominalnya justru lebih besar/berat daripada ukuran Syafiiyah, terlebih menggunakan nominal selain beras (apalagi kurma). 

Pandangan ini merujuk pada keterangan dalam kitab Syekh Nawawi al-Bantani, al-Tsimâr al-Yâni‘ah Syarh Riyâdh al-Badî‘ah (Mesir: Dâr Ihyâ’ al-Turâts, t.t., hlm. 13), tentang model intiqâl (merangkai pelaksanaan suatu perbuatan hukum dengan cara melompat dari satu pendapat ke pendapat lain) ada tiga pendapat: dilarang mutlak; dibolehkan mutlak; dan tafshîl (diperinci), boleh bila tidak tidak menyalahi ijma’, tetapi tidak boleh bila menyalahi ijma’, seperti nikah tanpa mahar, tanpa wali dan sekaligus tanpa saksi, karena ini tidak ada ulama yang membolehkan.

Dirangkum & disusun oleh : 

Al Faqir Ubaidillah

13 Sya'ban 1442 H/27 Maret 2021

kisah ketika Gusdur meminta tokoh Muhammadiyah menjadi Imam Tarawih di masyarakat NU

 Ketika Gus Dur Meminta Tokoh Muhammadiyah Jadi Imam Tarawih



Kisah nyata ini tentang Pak AR. 

 Abdul Rozal Fakhruddin, dikenal dgn panggilan Pak AR. Beliau adalah Ketua Umum Muhammadiyah tahun 1971 - 1990.

Suatu hari di bulan Ramadhan, Gus Dur mengundang Pak AR ke Tebuireng Jombang. Tiba waktu tarawih, Gus Dur mempersilahkan Pak AR memimpin ribuan jemaah tarawih yg jelas warga NU.

Sebelum mulai tarawih, Pak AR bertanya pada jamaah, "Ini mau tarawihnya cara NU yg 23 atau Muhammadiyah yg 11 rakaat?"_

"NU...!!!" semua jamaah kompak menyahut begitu dgn rasa heroik pada ke-NU-annya dihadapan tokoh besar Muhammadiyah tersebut.

Pak AR mengiyakan saja. 

Lalu dimulailah shalat tarawih.

Cara ngimami Pak AR pelan, halus, kalem, sehingga baru usai 8 rakaat saja durasinya sudah melampaui shalat tarawih ala NU pada umumnya.

Pak AR berkata pada jamaah sebelum lanjut takbir utk rakaat berikutnya, _

"Ini mau lanjut 23 rakaat ala NU beneran?"_

Semua jamaah kompak menyahut, _

"Ala Muhammadiyah saja....!!!"_

Pak AR pun menyetujui, diiringi gelak tawa semua orang. Tuntas shalat tarawih dan witir, Gus Dur berkata kepada para jamaah, dihadapan Pak AR,

"Baru kali ini ada sejarahnya warga NU di kandang NU diMuhammadiyahkan secara massal hanya oleh satu orang Muhammadiyah saja...."

Semua orang terkekeh, termasuk Pak AR...*

*

Pak AR lahir di Jogja 14 Pebruari 1914, wafat di Solo 17 Maret 1995. 

Beliau menjadi Ketua Umum Muhammadiyah menggantikan Kyai Faqih Usman, dan digantikan oleh Kyai Azhar Basyir. Ketiganya sangat dekat dgn para tokoh NU, termasuk Gus Dur.


Wallahu a'lam bish-shawab.

Semoga bermanfaat....


Budiansyah Abu Nizar

Kisah Baju Lebaran Cucu Rasulullah SAW

 BAJU LEBARAN CUCU RASULULLAH SAW


Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain tidak memiliki pakaian baru untuk lebaran, sedangkan hari raya sebentar lagi datang.

Mereka bertanya kepada ibunya : "Wahai ummah, anak-anak di Madinah telah dihiasi dengan pakaian lebaran kecuali kami, mengapa bunda tidak menghiasi kami ?"

Sayyidah Fathimah r.ha menjawab : “Sesungguhnya baju kalian berada di tukang jahit".

Ketika malam hari raya tiba, mereka berdua mengulangi pertanyaan yang sama.

Sayyidah Fathimah menangis karena tidak memiliki uang untuk membeli baju buat kedua buah hatinya itu.

Ketika malam tiba, ada yang mengetuk pintu rumah, lalu Sayyidah Fathimah bertanya : "Siapa …?"

Orang itu menjawab : "Wahai putri Rasulullah, aku adalah tukang jahit, aku datang membawa hadiah pakaian untuk putra-putramu".

Maka Beliau pun membuka pintu, tampak seseorang membawa sebuah bingkisan hadiah, lalu diberikan kepada Sayyidah Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

Kemudian beliau membuka bingkisan tersebut, dan ternyata didalamnya terdapat 2 gamis, 2 celana, 2 mantel, 2 sorban, serta 2 pasang sepatu hitam yang semuanya sangat indah.

Lalu Sayyidah Fathimah membangunkan kedua putra kesayangannya dan memakaikan hadiah tersebut kepada mereka.

Rasulullah SAW datang dan melihat kedua cucunya sudah dihiasi dengan semua hadiah yang terdapat dalam bingkisan tersebut.

Kemudian Rasulullah SAW menggendong kedua cucunya dan menciumi mereka dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Rasulullah SAW bertanya kepada Sayyidah Fathimah : "Apakah engkau melihat tukang jahit tersebut …?"

Sayyidah Fathimah menjawab : "Iya, aku melihatnya …".

Lalu Rasulullah SAW bersabda : "Duhai putriku, dia bukanlah tukang jahit, melainkan Malaikat Ridwan penjaga surga …"

Para penghuni langit dan bumi bersedih jika kedua cucu Rasululullah SAW bersedih, malaikat pun bersedih....

ﺁﻟﻠّﻬُﻢَ ﺻَﻠّﯿ ! ﻋَﻠﮱ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤّﺪْ ﻭَ ﻋَﻠﮱ ﺁﻝِ ﺳَﻴّﺪﻧَﺂ ﻣُﺤَﻤَّﺪ

Allâhumma Shalli 'alâ Sayyidina Muhammad, Wa'ala Aa Lii Sayyidina Muhammad.

“ Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada penghulu kami Nabi Muhammad dan kepada keluarga penghulu kami Nabi Muhammad ﷺ "

Al Fatihah ilaHadrotinNabiyyilMustafa Muhammad ﷺ wa ala aalihi wa sohbihi wa baarik wa salim .

 al fatihah🤲🏻




Amalan di Malam dan Hari Raya

 AMALAN DI MALAM & HARI RAYA



Nabi Muhammad SAW bersabda:


عن عبادة بن الصامت رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: “من أحيا ليلة الفطر وليلة الأضحى لم يمت قلبه يوم تموت القلوب” رواه الطبراني في الكبير والأوسط.


Dari Ubadah Ibn Shomit r.a. Sungguh Rosulullah SAW bersabda: Barangsiapa menghidupkan malam Idul Fitri dan malam Idul Adlha, hatinya tidak akan mati, di hari matinya hati. HR.Thobaroni


عن أبي أمامه رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : “من قام ليلتي العيدين محتسباً لم يمت قلبه يوم تموت القلوب”. وفي رواية “من أحيا” رواه ابن ماجه


Dari Abi Umamah r.a, dari Nabi SAW, bersabda: Barangsiapa menghidupkan dua malam Hari Raya dengan hanya mengharap ALLAH, maka hatinya tidak akan mati pada hari matinya hati. HR. Ibnu Majah.


Bagaimana cara menghidupkan/ menegakkan dua Hari Raya itu? Telah disebutkan oleh Syaikh Abdul Hamid Al Qudsi, dengan mengamalkan beberapa amalan:


1. Syaikh Al Hafni berkata: Ukuran minimal menghidupkan malam bisa dengan Sholat Isya’ berjama’ah dan meniatkan diri untuk jama’ah Sholat Shubuh pada besoknya. Atau memperbanyak sholat sunnah dan bacaan2 dzikir.


2. Syaikh Al Wanna’i dalam risalahnya: Barangsiapa membaca


أستغفر الله العظيم  ×100 


istighfar seratus kali (100×) setelah Sholat Shubuh di pagi Hari Raya, maka akan dihapus dosa-dosanya di dalam buku catatannya, dan pada hari kiamat akan aman dari siksa.


3. Masih dari Syaikh Al Wanna’i: Barangsiapa membaca ,


سبحان الله وبحمده


subhaanaLLah wabihamdihi 100× pada Hari Raya, dan menghadiahkan pahalanya untuk ahli kubur, maka para ahli kubur berkata,”Wahai Dzat Yang Maha Penyayang, rahmatilah ia, dan jadikanlah ia ahli surga”.


4. Syaikh Al Fasyni berkata dalam Tuhfatul Ikhwan: Dari Sahabat Annas, dari Nabi SAW bersabdah (yg artinya): Hiasilah dua Hari Raya dengan tahlil, taqdis, tahmid dan takbir”. Nabi juga bersabdah: Barangsiapa yang membaca:


سبحان الله وبحمده


Subhaanallah wabihamdihi 300×

dan ia menghadiahkan untuk muslimin yg sudah wafat, maka seribu cahaya akan masuk di setiap kuburan, dan Allah akan memasukkan seribu cahaya ke kuburnya jika ia meninggal.


5. Syaikh Az Zuhri berkata: Sahabat Anas r.a. berkata, Nabi SAW bersabdah (yg artinya): Barangsiapa di dua Hari Raya mengucapkan:


لا اله الا الله وحده لا شريك له، له الملك و له الحمد يحي و يميت و هو حي لا يموت بيده الخير وهو على كل شيئ قدير


sebanyak 400× sebelum Sholat ‘Ied, maka Allah SWT akan menikahkannya dg 400 bidadari, seakan memerdekakan 400 budak, dan Allah SWT mewakilkan para malaikat untuk membangun kota-kota dan menanam pohon-pohon untuknya di hari kiamat.


Beliau Syaikh Az Zuhri berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Sahabat Anas r.a. Dan Anas r.a. dahulu jg berkata: “Aku tidak pernah meninggalkannya semenjak aku mendengarnya dari Nabi SAW.”



WaLLahu A’lam 

bisshowab


فواتح ودعوات الإمام الحبيب /

عبد القادر بن أحمد السقاف نفعنا الله به

في آخر شهر رمضان المبارك الكريم

الفاتحة لنا ولكم وأن الله تعالى يختم لنا شهر رمضان بالخير ويجعلنا من أهل الخير ويعاملنا معاملته لأ هل الخير

فإنا لاندري بما ذا يختم اللهم انه قد مضى علينا اكثره ولم يبقى علينا إلا آخره اللهم أعده علينا بالخير وأعده علينا بالبركة وأظهر علينا أنواره وأظهر علينا أسراره وأظهر علينا بركة الصيام وأظهر علينا بركة القرآن وأظهر علينا بركة القيام

أسأل الله العظيم سبحانه وتعالى أن يعطينا في هذه الساعة الآمال ويكتبنا في ديوان الكمل من الرجال ويجعلها ساعة قبول، ويجعل الصيام مقبول واسأله سبحانه وتعالى أن يكتبنا من صوام هذا الشهر، وقوامه وعتقائه من النار وأن يطلعنا على خيراته وعلى كنوزه وعلى مبراته ويجعله شاهد لنا لا شاهدا علينا ويشهدنا ليلة قدره ويشهدنا مافيها ويجعلنا من أهليها ومن حاضريها ويجعلنا ممن حضرها وظفر بها ظاهرا وباطنا ويجعلنا وإياكم من العائدين الفائزين برضا رب العالمين اللهم وكما حفظتنا في رمضان فاحفظنا فيما بعده

واحفظه لنا اللهم وماتلوناه فيه من القرآن أو ذكر أو صلاة

Pencetus Halal Bi halal

 ULAMA' NUSANTARA



🌷 PENCETUS ISTILAH "HALAL BI HALAL"


Al 'Alim Al 'Allamah Al 'Arif Billah Al Maghfurlah KH. Abdul Wahab Chasbullah Allohu Yarhamhu Penggagas Istilah "Halal Bi Halal" 


Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.


Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. 


Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.


Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain."


"Itu gampang". kata Kiai Wahab. 


"Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'Halal Bi Halal'." jelas Kiai Wahab.


Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.


Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.


اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 💝


Kagem beliau" Lahum Al-Fatihah 🌷


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ . الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ،  الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ، إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ، اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. أمين


#PesantrenOnline

Semoga bermanfaat

Ciri dan sifat wanita Solehah

 SIFAT-SIFAT WANITA SHALIHAH


1. QANITAT

Yaitu, wanita yang ahli ibadah. Seorang wanita yang istiqomah dalam menjalankan ibadah, baik yang wajib maupun sunah, yang dibingkai dengan penuh keikhlasan semata karena-Nya.


2. SHADIQAT

Yaitu, wanita yang benar (jujur). Seorang wanita yang senantiasi menghiasi diri dengan kejujuran. Jujur dalam hati, lisan, tindakan, dan sikap yang sesuai dengan tuntunan Allah dan rasul-Nya.


3. SHABIRAT

Yaitu, wanita yang sabar. Seorang wanita yang mampu bersabar dalam berbagai keadaan. Sabar dalam menjalankan perintah-Nya, dalam meninggalkan larangan-Nya, dan dalam menghadapi berbagai bentuk ujian dan cobaan.


4. KHASYIAT

Yaitu, wanita yang khusyuk. Seorang wanita yang dapat menjaga kekhusyuan dalam beribadah kepada-Nya. Sehingga, ia dapat merasakan adanya pengawasan dari-Nya (muraqabatullah).


5. MUTASHADDIQAT

Yaitu, wanita yang senang bersedekah. Sedekah menjadi salah satu perhiasan diri yang hendaknya dilestarikan oleh setiap wanita. Karena sedekah dapat menarik cinta Allah, para malaikat, dan manusia.


6. SHAIMAT

Yaitu, wanita yang rajin berpuasa.

Rasul SAW bersabda, “Jika seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, niscaya akan masuk surga dari pintu-pintu yang ia inginkan.” (HR Ibnu HIbban dan Thabrani).


7. HAFIDZAT

Yaitu, wanita yang menjaga kehormatan. Kemuliaan seorang wanita diukur dari sejauhmana ia dapat menjaga kehormatan dirinya melalui cara berbusana, bertutur kata, berjalan, bergaul, dan yang lainnya.


8. DZAKIRAT

Yaitu, wanita yang banyak berdzikir. Tipe wanita yang selalu istiqomah berdzikir dalam berbagai kesempatan, tempat, dan waktu. Sehingga, hatinya senantiasa terpaut dengan Sang Pencipta.



Cara Takbiratul Ikhram (mengangkat tangan) dalam sholat menurut hadits Nabi

 Mengangkat Tangan dalam sholat

Ketika mengucapkan Takbiratul Ihram berbarengan dengan niat dalam hati disunnahkan juga mengangkat kedua tangan sejajar dengan telinga, batasannya sampai jempol menyentuh daun telinga. 

Usahakan kedua telapak tangan menghadap ke kiblat bukan menghadap ke arah telinga. 

Dalilnya adalah hadits dari shahih Muslim :



ilustrasinya

Kemudian letakkan kedua tangan tersebut diatas  pusar dan dibawah dada. Bukan tepat di dada persis
apalagi dibawah pusar.. 


Semoga bermanfaat.....





 

Cerita mengenai Wabah virus zaman dulu (seperti corona sekarang)

 Kala Abu Ubaidah menjadi gubernur Syam, ia wafat terkena wabah Tha'un. 

Kemudian Mu'adz menggantikannya dan ia pun wafat terkena wabah yang sama. 

Maka ketika Amr ibn al-Ash menggantikannya, ia berkhutbah: 

wahai manusia! Wabah itu laksana api yang menyala dan kalian adalah bahan bakarnya. Berpencaranlah! 

Naiklah ke atas gunung. Sehingga, api tidak menemukan bahan yang dapat dibakarnya lalu ia pun akan mati dengan sendirinya. 

Mendengar ini, penduduk Syam kompak memisahkan diri satu sama lain. 

Mereka pun semuanya selamat dari wabah. Dan Allah mengangkat wabah Tha'un itu. (Ibnu Katsir dlm al-Bidayah wa al-Nihayah)



Ceramah Abuya Uci (Alm. Almagfurlah) mengenai virus Corona

Informasi mengenai pencegahan virus corona dari Murid Almarhum Abah Haji Uci Turtusi nyampekeun AMANAT ti Guru kula Abah Haji Entoh Tohawi { Adik Abuya Uci },

bahwa Abah Haji Entoh tea ngimpi kapanggih jeung Bapana nyaeta Abuya Dimyati Cik Abuya Dimyati " Sampekeun ka dulur-dulur, ka para santri jeng Jama'ah pangajian " Jaga jeung lindungi diri urang kabehan tina iyeu Wabah / Virus supaya ulah beunang ku panyakit / supaya ulah garering. Anu ges gering supaya gera Calageur. 

Cara menjaga diri tina iyeu panyakit atau cara Ngubarana. 
{ Ngalawudhu - Mantos ngalawudhu baca Bismillaah 21 kali - Falaq sakali - Binnas sakali 
- Tiupkeun kana dampal lengeun terus usapkeun kana beungeut jeng usapkeun ka sakabeh awak anu ka todong ku lengeun Urang } . 

Terutama dibacana tiap rek sare jeung hudang sare 

Mudah"an urang calageur nyah tina iyeu panyakit anu melanda urang kabehan, paingan loba jasa anu gering horeng kitu meren ka ayaana Iye informasi ulah di sapirakeun nyah Lantaran anu ngomongna lain jelema sembarangan ( Abuya Dimyati ) . Anu ngimpinageh lain jelema biasa ( Abuya Entoh / Adina Abuya Uci ) .. 

Eta satiluna geh Wali Allah Bejaan dulur nu lain nyah Hampura anu teu ka Tandai Wassalaam Ulah poho " Babacan sebagai penangkal atau Ubar panyakitna Ulah poho DIBACA " . 
Bismillaah 21 kali . 
Qul 'Audzu birobbil falaq 1 kali . 
Birobbinas 1 
kali Tiupkeun kana dampal lengeun, terus usapkeun kana bengeut jeng usapkeun ka sakabeh awak anu katodong ku Lengeun Urang 
 { Mama Abuya Entoh / Adik Abuya Uci }

Ceramah Abuya Uci (Alm. Almagfurlah) mengenai virus Corona 
AURAT WANITA MENURUT AGAMA ISLAM

AURAT WANITA MENURUT AGAMA ISLAM

Bagi para Wanita Muslimah silahkan baca keterangan / buku dibawah ini yang merupakan panduan untuk mengetahui batasan aurat wanita muslimah.
Sejarah Singkat Syekh Abdul Qodir Jaelani

Sejarah Singkat Syekh Abdul Qodir Jaelani

Sejarah Singkat Syekh Abdul Qodir Jaelani 


A. Perjalanan Hidup 
Memasuki tahun 488 H, Baghdad sebagai kota peradaban Islam dan menjadi destinasi para santri masih dibanjiri para pengembara ilmu. Begitu pula yang dilakukan oleh seorang pemuda delapan belas
tahun dari daerah Jilan. Di awal tahun tersebut dia datang untuk menimba ilmu dari sumur-sumur Baghdad yang tak pernah kering.  
Meski suasana politik abbasiyah sedang tidak stabil, akan tetapi menuntut ilmu tetap menjadi aktifitas yang tak pernah sepi. Kondisi seperti itu tak membuat pemuda Jilan tadi patah semangat.
Semangatnya justru kian membara. Ia memulai pengembaraan ilmiahnya dari guru ke guru. Dia memulai terlebih dahulu dengan berguru Al Qur’an. 

1. Lahir
Delapan belas tahun sebelumnya, pemuda tadi adalah bayi lucu yang baru saja dilahirkan dari seorang ibu bernama Fathimah putri dari seorang tokoh agama terkemuka di Jilan. Sedangkan ayahnya bernama Abdullah Abu Shalih yang kalau ditarik garis nasabnya ke atas, maka beliau adalah keturunan Hasan ibn ‘Ali, sebagaimana dituliskan oleh Ibnu Hajar, Ibnul ‘Imad, dan As Sya’rani.

2. Menuntut ilmu
Di Baghdad pemuda bernama Abdul Qadir ini berguru dengan beragam masyayikh. Setelah belajar Al Qur’an, ia belajar fiqih hanbali dengan para guru besarnya. Kemudian beliau mendengarkan hadits.
Mempelajari sastra. Dan setelah semua itu dirasa matang, beliau menyepi, berkhalwat, berthariqah dibawah bimbingan seorang ulama besar bernama Hammad ibn Muslim Ad Dabbas.

3. Guru-guru
Beliau berguru dengan banyak masyayikh Baghdad. Dalam ilmu fiqih hambali, beliau belajar kepada Abu Said Al Mubarak ibn ‘Ali Al Mukhrami. Madrasah Abu Said inilah yang nantinya akan diwariskan kepada Syaikh Abdul Qadir. Dan kemudian populer dengan nama Madrasah Qadiriyah.  

Beliau juga berguru fiqih hanbali kepada Abul Khattab Al Kalwadzani, salah satu murid Al Qadhi Abu Ya’la.  Beliau juga berguru kepada seorang ulama besar Baghdad bernama Abul Wafa Ibnu ‘Aqil, penulis Al Funun yang cukup dalam mengetahui pemikiran muktazilah. Bahkan konon pernah sampai tersesat dalam belantara pemikiran muktazilah dan susah keluar. Walaupun akhirnya berhasil menyelamatkan diri.  

Sedangkan dalam hadits, beliau mendengar hadist dari Abu Ghalib Al Baqilani, Ja’far As Siraj Al Baghdadi, Ahmad at Tammar, Muhammad ibn Maimun An Nursi, Abul Qasim Ar Razaz, Abu Thalib Al Yusufi dan
sepupunya, Abul Barakat As Siqthi, Ahmad Al Banna, dan lain sebagainya. 

Sedangkan terkait sastra beliau belajar dari Abu Zakariya At Tibrizi, seorang linguis dan juga penyair murid Abul ‘Ala Al Ma’arri. Al Khatib al Baghdadi dikabarkan pernah juga meriwayatkan darinya. 

4. Karya dan Murid
 Meskipun belajar beragam disiplin ilmu, namun kalau kita amati karya-karya beliau, hampir mayoritas tulisannya berkaitan dengan tasawwuf. Hal ini menunjukkan, pengaruh dari Hammad ibn Muslim
Ad Dabbas memang cukup besar. 
Apalagi dalam beberapa sumber disebutkan bahwa beliau juga pernah satu majlis bersama Ibnul ‘Arabi, Ibnu Aqil dan Abul Khattab kedua gurunya untuk menyimak kajian Hujjatul Islam Imam Ghazali. 

Salah satu karya beliau yang cukup populer yaitu Al Ghunyah, bahkan dianggap terpengaruh oleh pemikiran Imam Ghazali dalam penyusunan Ihya ‘Ulumiddin.

a. Karya Tulis
1. Al Ghunyah li thalibi thariq al haq
2. Jala al Kahthir min kalam ‘Abdil Qadir
3. Fathul Ghaib
4. Risalah fil Asma al ‘Adzimah fi tahriq ilallah
5. Sirrul Asrar
6. Surah Al Waqi’ah wa du’auha
7. Syarh Futuh al Ghaib
8. Hikam al Mawaidh
9. Majmu’ah rasail shufiyah
10. Qashidah al Asma Al Husna 

Dan lain sebagainya yang kalau dijumlahkan bisa
mencapai lebih dari empat puluhan.  

b. Murid 
1. ‘Abdurrazaq ibn Abdul Qadir Al Jailani
2. Musa ibn ‘Abdul Qadir Al Jailani
3. ‘Abdul Wahhab ibn ‘Abdul Qadir Al Jailani
4. Abu As’ad As Sam’ani
5. Abdul Ghani Al Maqdisi
6. Ibnu Qudamah (Al Muwaffaq) Al Maqdisi

Dalam studi fiqih hanbali, nama Ibnu Qudamah tidaklah boleh kita lewati begitu saja. Beliaulah penulis Al Mughni yang oleh Al
‘Izz ibn Abdissalam dianggap sebagai salah satu kitab terbaik dalam Islam. 

Al Mughni adalah syarah (penjelasan) atas kitab Mukhtashar Al Khiraqi yang beliau  talaqqi langsung pembacaannya secara hafalan kepada Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Ibnu Qudamah memang tidak terlalu lama  tinggal di madrasahnya Syaikh Abdul Qadir.

Akan tetapi masa yang singkat di akhir hayat Syaikh Abdul Qadir itu benar-benar menjadi kenangan yang tak terlupakan. 
Ibnu Qudamah selalu terkenang dengan Yahya putra Syaikh Abdul Qadir yang sering diperintah untuk menyalakan lampu minyak di
awal malam. Begitu juga Ibnu Qudamah selalu ingat saat Yahya membawakan makanan ke madrasah atas perintah Syaikh Abdul Qadir.
Bahkan Ibnu Qudamah tidak akan pernah lupa saat Syaikh Abdul Qadir Al Jailani memimpin shalat berjamaah sebagai Imam.  

Dan tentu saja yang paling berkah terkait ilmu fiqihnya adalah saat di setiap pagi Ibnu Qudamah membacakan dari hafalannya kitab
mukhtashar Al Khiraqi di hadapan Syaikh Abdul Qadir. Sementara sepupunya Abdul Ghani Al Maqdisi membaca kitab Al Hidayah.  
Dan kenangan manis yang sangat mengesankan itu semua terjadi dalam waktu singkat. Hanya sekitar sebulan sembilan belas hari. Karena setelah itu, sang guru besar madrasah Qadiriah wafat.    

7. Ali Al Ya’qubi
8. Ibnu Al Wasthani
9. Akmal ibn Mas’ud Al Hasyimi
10. Nashr ibn Fityan Al Hanbali
Dan masih banyak lagi .  

5. Wafat
Al Imam Abdul Qadir Al Jailani wafat pada malam sabtu 10 Rabi’ at Tsani 561 H. Dishalati oleh putranya Abdul Wahhab dan yang lain beserta jamaah. Dimakamkan di pusara Madrasah Qadiriyah. Semoga
Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya, meridhainya, dan memberkahi ilmunya untuk kita semua.
  
B. Penguasaan Cabang Ilmu 
Ensiklopedis. Itu barangkali diksi yang bisa mewakili dan mendeskripsikan keluasan ilmu yang dimiliki oleh para ulama terdahulu. Mereka rata-rata multidisipliner. Menguasai beberapa cabang keilmuan dan mendalam. 
Kesan ensiklopedis memang kurang melekat pada diri Syaikh Abdul Qadir Al Jailani. Tapi bukan berarti beliau hanya menguasai cabang ilmu tasawuf saja.

Ada beberapa disiplin ilmu yang beliau pelajari secara mendalam. Hanya saja memang tasawuf adalah semacam passionnya. Beberapa disiplin ilmu itu antara lain :   

1. Fiqih
Kalau kita membaca tulisan para pakar biografi seperti Imam Ad Dzahabi misalnya, maka kita akan tergambar bagaimana penguasaan Syaikh Abdul Qadir dalam ilmu fiqih. Imam Ad Dzahabi mengatakan bahwa Al Jailani adalah seorang faqih, guru besar hanabilah di zamannya yang belajar fiqih kepada Al Mukhrami. 

Bahkan ibnu Hajar menuturkan bahwa Syaikh Abdul Qadir dikenal sangat cepat dalam menyampaikan fatwa. Bahkan kecepatannya memunculkan rasa kekaguman dari para ulama. Tak ada satu pun kertas fatwa yang sampai menginap di rumahnya. Setiap penanya langsung mendapatkan jawabannya.  

Yang lebih unik lagi adalah beliau meskipun seorang pakar fiqih madzhab hanbali, tetapi juga bisa berfatwa dengan pandangan-pandangan syafi’iyyah.  Barangkali karena kemampuan inilah masyarakat kaum muslimin yang bermadzhab syafi’i juga merasa memiliki kedekatan emosional dengan beliau. Selain juga karena faktor thariqahnya yang memang banyak dianut oleh mereka yang bermadzhab syafi’i.  

2. Hadits
Meskipun tidak kita temukan karya khusus dari beliau tentang hadits, tapi kalau kita lihat kesaksian pakar hadits sekaliber Al Hafidz Ad Dzahabi, beliau memasukkan biografi beliau ke dalam Thabaqat Al Muhadditsin.  

Beliau juga mendengar dan meriwayatkan hadits dari para ahlil hadits. Demikian juga tidak sedikit ulama yang meriwayatkan hadits dari beliau. Bahkan sampai memberikan ijazah periwayatan. 

Dalam kitab beliau berjudul Al Ghunyah, ada lebih dari sekitar seribuan hadits beliau tuliskan tanpa disandarkan kepada sanad. Dan ada sekitar 110 hadits yang bersanad dari dua jalur gurunya yaitu Ibnul Mubarak As Siqthi dan Ibnul Hasan Al Banna. 

Ulama ahlul hadits selevel Ad Dzahabi dan Ibnu Rajab juga menuliskan hadits dengan sanad Syaikh Abdul Qadir. Dan terakhir, walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak, beliau juga memiliki penilaian atau ijtihad dalam menghukumi status suatu hadits baik tashih (menilai sahih) dan tadh’if (menilai dhaif).  
 
3. Sastra 
Kesaksian tentang ini diberikan oleh Ibnul ‘Imad. Kata beliau, Syaikh Abdul Qadir memiliki banyak koleksi syair indah bernilai.  
Beliau juga menadzamkan (mengiramakan) dengan pola sajak beberapa wirid, do’a-do’a, kasidah Al Asmaul Khusna, kasidah nasihat dan kasidah
tasawuf.  

4. Tasawwuf
Termonilogi tasawuf bagi sebagian kalangan agak terkesan negatif. Tasawuf oleh mereka dikesankan sebagai pemahaman sesat terhadap Islam. Tasawuf hanya diidentikkan dengan tarian dan nyanyian.
Tasawuf hanya diidentikkan dengan adanya Al Hallaj. Bahkan ada juga yang secara serampangan menyamakan praktik tasawuf dengan praktik ritual syiah. 

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa tersebut cocok bagi mereka yang masih antipati dengan tasawuf. Kebodohan adalah pangkal segala kebencian. Manusia cenderung memusuhi apa yang
asing dan tidak ia kenal. Dan bagaimana kira-kira perilaku mereka yang tidak mengenal tasawuf terhadap tasawuf ? Dan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai ulama ahlussunnah yang sangat ketat memelihara ajaran Al Qur’an dan Sunnah, secara tegas dan harfiah
menyebutkan pembahasan dengan judul tasawuf dalam bagian kelima dari buku Al Ghunyahnya. 

Dan hampir semua buku karya Syaikh Abdul Qadir Al Jailani adalah tentang tasawuf. Tentang akhlak dan etika. Dari karya-karya erkait etika itulah beliau diikuti. Jalan yang diikuti itu adalah thariqah. Dan thariqah beliau dikenal sebagai thariqah Qadiriah.   
C. Thariqah Qadiriyah Ada banyak sekali dalam tubuh kaum muslimin 
bermunculan thariqah. Ada naqsyabandiah, ada qadiriah, ada tijaniah dan lain sebagainya. Dan thariqah yang dirumuskan oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jailani dikenal dengan nama thariqah
Qadiriah.  

Dari kitab-kitab karya Syaikh Abdul Qadir itulah diambil rumusan dan kaidah-kaidahnya. Ada kitab wirid. Ada kitab akhlak. Ada kitab yang tergabung di dalamnya ilmu fiqih juga.  Kaidah-kaidah itu antara lain terkait dengan kewajiban berkesuaian dengan Al Qur’an dan Sunnah. Bekerja keras mengerahkan segala daya dan upaya untuk berjalan menuju ridha Allah subhanahu wa ta’ala. Saling berkumpul dengan orang-orang shalih, saling mendengarkan nasihat.  

Begitu juga terkait dengan menyikapi guru. Harus menghormati dengan sepenuh hormat. Namun tidak melebihkannya di luar batas sebagai manusia. Guru tidak maksum sebagaimana nabi. Bisa salah dan bisa juga benar. Mencintai guru dengan mengedepankan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya terlebih dahulu. 

Banyak berdzikir. Membaca shalawat dan mencintai kaluarga Nabi atau ahlul bait. Mencintai para wali dan orang orang shalih. Dan tentu saja berdakwah kepada Allah dengan cara yang diridhai 
Alah Subhanahu wa ta’ala. 

Dalam perkembangannya thariqah qadiriah mengalami pencabangan. Dan masing-masing cabang di wilayah yang berbeda-beda itu, juga
memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Bahkan ada juga yang memadukan antara thariqah qadiriah dengan thariqah yang lain.  

Karenanya agar pencabangan itu tetap berjalan diatas kaidah yang telah dirumuskan, dan tidak terjadi pengurangan atau penambahan tertentu, maka seorang mursyid thariqah harus memenuhi syarat. Syaikh Abdul Qadir Al Jailani telah menadzamkan syarat-syarat tersebut dalam salah  satu bukunya.  Seorang mursyid haruslah paham akan hukum hukum Syariah. Harus paham juga dengan ilmu
hakikat dan thariqah. Harus dermawan, tawadhu, dan yang terakhir berhasil mendidik para muridnya.  

D. Fiqih Syaikh Abdul Qadir Al Jailani

Shalawat dan salam senantiasa tercurah atas Kanjeng Nabi Muhammad, keluarganya, shahabatnya, dan para pengikutnya yang setia
hingga akhir zaman.   

1. Madzhab Fiqih
a. Guru-guru bermadzhab hanbali
 Seperti yang sdah disebutkan dalam kisah perjalanan hidup beliau, hampir mayoritas guru-guru beliau bermadzhab hanbali. Di antara mereka yang bermadzhab hanbali adalah Abu Said Al Mukhrami, Abul Khattab Al Kalwadzani dan Ibnu Aqil.
Walaupun bukan merupakan kelaziman seorang murid akan mengikuti madzhab gurunya, akan tetapi dengan jumlah yang tidak sedikit dan hampir semuanya adalah tokoh besar madzhab hanbali, maka besar kemungkinan Syaikh Abdul Qadir bermadzhab hanbali. 

b. Kesaksian para ulama
Hal ini bisa kita baca dalam buku-buku biografi para ulama. Dan hampir semua buku-buku tersebut menyebut Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai Syaikhul Hanabilah, Faqihun Hanbali, dan lain-lain. 

c. Pengakuan Sendiri
Dalam kitab beliau Al Ghunyah, dengan tegas  beliau menyebutkan Imamuna untuk Imam Ahmad ibn Hanbal. Begitu juga redaksi ‘indana yang mengisyaratkan kehanbaian beliau.
  
2. Pentingnya Ilmu Fiqih
Sebagai tokoh tasawuf beliau mengingatkan bagi  mereka yang hendak menyepi untuk belajar fiqih terlebih dahulu. “Jika ingin menyendiri, janganlah menyendiri kecuali setelah belajar fiqih” 
Dalam redaksi yang lain, “Belajarlah dulu fiqih, baru kemudian beruzlah untuk beribadah. Karena seorang yang menyembah Allah tanpa ilmu, justru lebih merusak dirinya daripada memperbaikinya.
Bawalah bersamamu pelita syariat” 
Ini hampir mirip dengan syair imam Syafi’i dalam
diwannya. Kata Imam Syafi’i, “lebih besar lagi bahayanya, saat ada orang bodoh tak tahu syariat tapi beribadah ritual begitu semangat” 

3. Toleransi dalam Perbedaan  Fiqih
Perbedaan dalam studi ilmiah apapun adalah satu  hal yang niscaya. Tidak terkecuali dengan ilmu fiqih. Bahkan dalam ilmu fiqih sudah lahir ilmu tersendiri untuk menyikapi itu yang dikenal dengan fiqhul khilaf atau fiqhul ikhtilaf.  

Dan Syaikh Abdul Qadir Al Jailani sebagai salah satu ulama fiqih yang banyak ditanya dan dimintai fatwa, sangat memahami perbedaan ini.   Oleh karena itu beliau sangat bijak dalam menyikapinya. Dalam Al Ghunyah beliau mengingatkan saat bicara tentang amar makruf nahi mungkar, bahwa jika yang terjadi adalah sesuatu yang memang masih diperdebatkan para ulama terkait status hukumnya, maka mereka yang berbeda tidak selayaknya untuk mengingkari dan beraku keras. 

Syaikh Abdul Qadir juga mengutip kalimat Imam Ahmad yang menyatakan bahwa tidak seyogyanya bagi seorang mufti untuk memaksakan pandangannya kepada orang lain. Sikap Imam Al Jailani ini kurang lebih juga sama dengan guru dari guru beliau. Al Qadhi Abu Ya’la di zamannya pernah didatangi seseorang untuk beajar
madzhabnya.  Setelah dijawab oleh pendatang tersebut tentang
asal muasalnya, maka Al Qadhi Abu Ya’la menolak permintaannya untuk belajar. Karena dalam pandangan Al Qadhi Abu Ya’la si pendatang ini berasal dari daerah yang disana sudah ada ulama
besar yang berbeda madzhab. Dan sebaiknya si pendatang tersebut belajar kepada ulama itu. Karena justru beliau berada di wilayahnya. 

E. Madzhab Hanbali dalam Al Ghunyah
Sayangnya tidak ada satu kitab pun yang ditulis oleh Syaikh Abdul Qadir Al Jailani yang khusus membahas ilmu fiqih. Sehingga fakta ini benar-benar akan menyulitkan untuk mengukur seperti apa
kehanbalian Al Jailani. 
Minimal ada satu karya yaitu Al Ghunyah. Karya ini meskipun bukan khusus karya fiqih, akan tetapi dari lima bagian yang ada, dua diantaranya bisa dikatakan adalah pembahasan fiqih. 

Bahkan pada bagian pertama secara tegas Imam Al Jailani ini memberi judul dengan nama ilmu fiqih.  Maka dengan data seadanya yaitu hanya kitab Al Ghunyah saja, semoga kita bisa menemukan bukti bahwa beliau benar-benar bermadzhab hanbali. 

1. Kitab Al Ghunyah
Kitab ini bernama lengkap Al Ghunyah li Thalibi thariq al Haq ‘Azza wa Jalla. Sebagian ulama mengatakan bahwa kitab ini ditulis oleh Syaikh Abdul Qadir karena terinspirasi oleh karya Imam Ghazali yang berjudul Ihya Ulumiddin. 

Kitab ini terdiri dari dua juz dan lima bagian. Bagian
pertama membahas tentang fiqih. Bagian kedua tentang aqidah. Bagian ketiga tentang almajalis (seputar faidah (tafsir) ayat-ayat, fadhilah bulan danhari). Bagian keempat seputar fadhail al a’mal. Danbagian kelima tentang tasawuf. Pada bagian pertama dan keempat itulah kita bisa mendapatkan informasi tentang ilmu fiqih SyaikhAbdul Qadir Al Jailani.   

Back To Top